Assalamu’alaikum kawan..
saya mau mengulas kembali isi film Stand By Me nii minta komen yaa kalau ada
yang salah atau kurang hehe
Gini niii….
Anak laki-laki dengan tingkah laku kikuk yang mudah di intimidasi oleh
sahabatnya Gian (Subaru Kimura) dan Suneo (Tomokazu Seki), sosok pemalas yang
bukan hanya kesulitan dalam hal pelajaran tapi juga terkait asmara pada teman
sekelasnya dengan wajah manis bernama Shizuka (Yumi Kakazu), keberuntungan
justru mendadak menghampiri Nobita (Megumi Ohara). Segala kekurangan yang
ketidakmampuan yang ia miliki membuat anak laki-laki lain bernama Sewashi
(Yoshiko Kamei) muncul dari dalam meja belajar untuk datang menghampiri Nobita
bersama robot ajaib yang dapat mewujudkan semua permintaan yang diberikan
kepadanya dengan menggunakan kantung ajaib miliknya, Doraemon (Wasabi Mizuta).
Sewashi sendiri bukan sosok biasa, ia merupakan cucu dari cucu Nobita
yang datang menggunakan mesin waktu dari abad ke-22, dan tujuan utamanya adalah
untuk membantu Nobita kembali ke dalam kehidupan yang lebih baik, yang tentu
saja akan ikut mengubah apa yang terjadi masa depan untuk menjadi lebih baik,
salah satunya menghindari pernikahannya dengan perempuan dari sosok yang sangat
ia takuti. Untuk mewujudkan hal tersebut Sewashi menugaskan Doraemon untuk
tinggal bersama Nobita dan dengan menggunakan alat-alat dari saku miliknya
menjalankan sebuah misi sederhana, membuat Nobita menemukan kebahagiaannya,
syarat mutlak yang secara otomatis akan membawa Doraemon kembali ke masa depan.
Sangat sulit untuk bersikap benar-benar objektif, atau sekedar
menyeimbangkannya dengan sikap subjektif dalam memberikan penilaian pada bagian
penutup petualangan Doraemon yang mengambil langkah berani untuk keluar dari
kebiasaannya dan tampil dalam wujud 3D ini, karena meskipun tidak mengikuti
semua filmnya robot kucing yang takut tikus itu merupakan bagian dari masa kecil
saya. Muncul di layar televisi setiap minggu pagi pukul delapan, film ini
seperti memutar kembali kenangan itu dengan tingkah laku konyol, santai, bahkan
manis yang ditampilkan oleh karakter dengan sangat kuat, dari drama sederhana
yang selalu berhasil meninggalkan berbagai pesan penting yang sederhana namun
tajam dan efektif, hingga humor dengan menggunakan aksi slapstick gerak cepat
penuh energi yang disamping menciptakan tawa lepas yang menyenangkan juga
sanggup membuat karakter tampak konyol dan adorable secara bersamaan.
Itu yang menjadi kekuatan utama Doraemon, dan seolah paham betul dengan
materi yang ia jual serta apa yang penonton inginkan dua sutradara Takashi
Yamazaki dan Ryūichi Yagi memperoleh keuntungan dari sikap simple mereka untuk
tidak membawa hal-hal baru yang sangat mengganggu kedalam petualangan ini. Dari
sisi cerita Stand by Me Doraemon adalah standard dari apa yang kita inginkan
dari Doraemon dan teman-temannya, namun konsep dasar yang merupakan
penggabungan dari beberapa cerita pendek dengan menampilkan berbagai alat-alat
canggih yang menarik itu justru menjadi sebuah keunggulan bagi film ini, semua
terbentuk dengan cepat, padat, dan tepat. Sinopsis yang ia miliki terasa
sedikit tipis memang, terasa episodik serta seolah di jaga untuk tidak bergerak
terlalu dalam, namun berbagai potongan kecil itu berhasil dirangkai oleh
Takashi Yamazaki dan Ryūichi Yagi untuk membawa penonton merasakan misi utama
yang mereka ingin sampaikan.
Persahabatan, semua berputar disana dengan cara
yang menyenangkan. Plot terasa bijak tanpa berupaya untuk menciptakan sesuatu
yang kompleks, cara mereka menciptakan batasan sangat tepat sehingga mampu
untuk selalu memberikan penonton alur yang mengalir dengan nikmat penuh
kebebasan tapi juga tidak sampai keluar dari lintasan, tapi disisi lain ia
punya timing yang sangat baik, ketika momen serius itu diperlukan mereka juga
ditampilkan dengan sama meyakinkannya. Pergeseran penuh energi diantara dua hal
tadi yang menghapus keterbatasan film ini pada sektor cerita diawal tadi, ia
seperti terus membawa kita seolah naik menuju level selanjutnya, dan itu banyak
dibantu oleh dinamika bercerita yang ia ciptakan, ia mampu mencengkeram
penonton pada empat aspek penting dari sebuah film animasi secara bersamaan:
dari segi cerita, kemudian mempermainkan emosi, dan yang terakhir pada
kemampuannya memanjakan mata serta karakter yang membawa penonton berimajinasi.
Cerita yang tersusun dengan manis juga punya
tahapan yang baik, beberapa pesan terkait kasih sayang secara mengejutkan juga
tersampaikan lewat hubungan sederhana antar karakter, seperti antara Shizuka
dan ayahnya, atau antara Nobita dan Shizuka. Hal terakhir tadi sebenarnya punya
double effect, disamping nilai positif eksplorasi pada relationship mereka di
beberapa bagian terasa terlalu “lembut”, terasa monoton, dan yang lebih
berbahaya bagian ini dapat menggerus fokus anda pada Doraemon itu sendiri, pada
hubungan antara Doraemon dan Nobita. Ini mungkin satu dari dua kekecewaan saya
pada film ini disamping tidak hadirnya kejutan di bagian akhir yang imo akan
terasa sangat kuat jika momen “comeback” itu dihilangkan (yeah, too risky).
Namun jika berbicara tentang emosi, film ini luar biasa. Seperti sebuah
rollercoaster yang bergerak cepat dalam lintasan yang dinamis, penonton memang
dibawa bergembira namun kita tetap merasa waspada dengan isu kehilangan yang
akan dialami oleh Nobita.
Keberhasilan tersebut memang tidak lepas dari
kesan dimana kita seolah menjadi bagian dari keseharian Nobita yang telah
tercipta sejak awal, dan itu dampak dari kinerja visual yang sangat memikat.
Ini adalah kejutan dimana penonton tidak perlu waktu lama untuk klik dengan
karakter dalam “wujud” yang berbeda dari apa yang selama ini kita saksikan,
tekstur yang mereka miliki sangat renyah terlebih ada kesan hangat yang
memancarkan energi, dan itu bukan hanya sebatas pada detail karakter yang mampu
menjadikan Shizuka terasa sangat manis, Doraemon terasa menggemaskan, serta
Nobita, Suneo, dan Gian terasa menggelikan, tapi juga pada ekspresi, lelucon
slapstick terasa halus dan berhasil membuat kita tertawa, ketika momen sedih
itu muncul visual juga berhasil membuat kita merasa terenyuh, dan itu
dilengkapi dengan atmosfir cerita yang stabil dan kuat berkat score yang
mantap, pengisi suara yang menyuntikkan nyawa pada karakter, serta soundtrack
yang manis.
Stand by Me Doraemon adalah film yang memuaskan. Sebuah perpisahan yang special
karena kita tidak mengatakan sayonara dan kemudian melepaskan mereka begitu
saja, tapi sebaliknya ini seperti
sebuah penghormatan bagi karakter yang telah memberikan kenangan indah bagi
banyak orang yang tumbuh di era 90-an, sebuah sayonara yang memoles kenangan
itu untuk semakin membekas di memori penonton yang juga diperlakukan dengan
hormat, mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Doraemon, sebuah petualangan
yang bergerak cepat dan terkendali dengan mengandalkan kombinasi antara drama
berbalut emosi yang ketat dan padat, ditemani komedi penuh aksi komikal dan
slapstick yang tak pernah berhenti berusaha menyebarkan virus bahagia kepada
penonton bahkan ketika credit mulai hadir dihadapan mereka. Arigato Doraemon, Nobita, Shizuka,
Suneo, Gian. Udah itu pemahaman saya
tentang film standby me dadaaaah kawaaan.
